Mari intip Firefox terbaru yang lebih cepat

Firefox terbaru
Firefox logo

Firefox web browser mengikuti jejak pesaingnya.

Sejak dirilis lebih dari satu dekade yang lalu, Google Chrome menjadi bagian yang paling konsisten di era teknologi dalam hidup kita. Ini terlihat dari apa saja perangkat yang digunakan seperti smartphone, laptop, dan pc baik dari berbagai jenis sistem operasi seperti Android, iOS, Windows Phone, macOS, dan Windows. Kita tidak pernah bahkan jarang meragukan salah satu browser dari Google ini sebagai alat untuk berselancar di internet. Baru-baru ini telah ada perubahan di dunia web browser dimana kita dapat mempertimbangkan kembali untuk menggunakan Firefox. Setelah beberapa tahun menggunakan Chrome, saya kembali menggunakan Mozilla Firefox karena dampak negatif Chrome dan update terbaru Firefox.

Kalau orang meminta pendapat kepada saya tentang browser apa yang paling bagus, maka dari dalam hati saya akan menjawab Google Chrome, karena sepanjang yang saya tahu, ini adalah web browser paling kaya fitur dan lebih sedikit menimbulkan masalah dari sudut pandang teknis saat menelusuri sebuah situs. Jadi ini bukanlah tulisan panjang lebar yang ingin menentang web browser kepunyaan si mbah karena dalam kondisi tertentu kadang-kadang tidak ada alasan yang benar-benar pasti untuk tidak menggunakan Google Chrome. Inilah alasan saya untuk kembali menggunakan Mozilla Firefox.

Salah satu alasan yang membuat saya terbangun adalah Google yang menerapkan langsung ad-block kedalam kode peramban miliknya. Saya sangat gembira mempunyai ad-block secara built-in dan otomatis, tetapi perdebatan terus bergulir terhadap Google dimana suatu perusahaan iklan harus terusik dengan tipe iklan yang dapat diterima dan yang tidak. Berdasarkan data dari NetMarketShare, Chrome telah digunakan oleh hingga 60% oleh pengguna internet, baik dari perangkat mobile maupun dari desktop. Sedangkan Firefox hanya digunakan sebanyak 12% dari perangkat desktop dan hanya 0.6% saja dari perangkat mobile. Kalau dilihat dari browser lain yang berasal dari Apple Safari dan Microsoft, justru sebaliknya dan dapat dikatakan memprihatinkan, bahkan browser tersebut merupakan peramban default yang berasal dari masing-masing sistem operasi.

Chrome telah menjadi sangat besar di dalam persaingan ini dengan cara yang tidak sehat. Hal ini dibenarkan oleh Tom Warren yang menulis dan mengoptimasi kode di dalam Chrome jika dibandingkan dengan sebuah web browser yang tidak mempunyai kode yang optimal dan tampilan menarik seperti waktu zaman kepopuleran Internet Explorer. Chrome kemudian datang dan mengalahkan belenggu IE pada zaman itu. Tapi seiring dengan waktu berjalan seperti tokoh revolusioner, kekuatan yang dimiliki Chrome selama bertahun-tahun akhirnya menyimpang dari tujuan aslinya.

Sebelum saya lanjutkan ada baiknya kita melihat ke web browser lain, dimana Safari menjadi peramban andalan saya selama beberapa bulan. Jika saya hanya menggunakan iPhone, iPads, dan Macs di sisa kehidupan teknologi, mungkin saya akan tetap menggunakan Safari. Performanya sangat bagus di iOS dan macOS karena kecepatan browsingnya dan juga menyediakan ad-block yang sangat beralasan pada tambahan ekstensi browsernya. Dan pilihan ekstensi seperti ini tidak ada yang menyamainya dengan pustaka ekstensi dari Google Chrome terhadap banyaknya browser moderen yang bermunculan saat ini walaupun saya tidak akan bergantung pertama sekali terhadap ekstensi semacam ini.

Firefox sekarang jauh lebih ringan terhadap konsumsi memori pada beberapa tahun lalu

Saya menulis ini karena alasan yang sangat sederhana dari Firefox sekarang yaitu kompatibilitas lintas platform atau cross-platform. Kemarin saya baru saja menyiapkan sebuah laptop Windows dan harus memilih peramban yang cocok. Kalau Safari mungkin bagus dan saya yakin lebih dari cukup untuk menggantikan Chrome untuk pengguna produk Apple. Tapi saya butuh browser yang dapat diajak bekerja di ponsel pintar Huawei atau Lenovo ThinkPad sebagaimana halnya ia juga dapat melakukannya di iPhone X.

Antara Chrome, Safari, dan Firefox juga memiliki password manager yang dapat membantu menyimpan kode login saat saya perlu melakukannya dan juga melindungi sandi tersebut. Satu password tidak masalah untuk saya ingat tetapi jika ada ratusan bahkan ribuan, maka ini akan masalah buat kedepannya. Inilah dimana saya perlu peramban yang dapat membantu saya dalam kondisi ini dan Firefox memberikannya. Dengan Safari saya mendapat beberapa kesempatan antara menyimpan atau melupakan dan akhirnya peramban Safari ini menjadi bingung dimana dan kapan ia menyimpannya, sebagai contoh saat saya login dengan lebih dari satu akun google. Beda dengan Firefox yang dapat menanganinya sama seperti Google Chrome dan yang penting lagi adalah sama-sama aman.

Pertimbangan ketika saya akan beralih ke peramban Firefox adalah melihat hasil benchmark diantara beberapa browser moderen lainnya, dan juga melihat seberapa banyak menghabiskan daya baterai dan dampak lainnya. Ini juga membuat saya menyingkir dari Opera yang mempunyai fitur VPN bawaan sama seperti Firefox yang memiliki banyak perlindungan terhadap privasi dan pilihan anti-tracking. Saya menyukai gagasan yang di emban oleh Opera tetapi saya tidak suka dengan Opera yang ada di Android yang menampilkan iklan di layar kunci.

Setelah beberapa jam membandingkan antara Chrome, Safari, dan Firefox terhadap beberapa jenis situs, maka kesimpulannya adalah tidak begitu informatif dan tidak berguna untuk di publikasikan. Perbedaan performa diantara ketiganya tidak begitu besar. Kalau kamu menghadapi suatu masalah ketidaksesuain karena selama ini hanya menggunakan Chrome maka disanalah kamu harus pindah ke Firefox. Firefox disini hadir sebagai alternatif karena orang tersebut mempunyai alasan untuk menghindarinya dan menggunakan Firefox kembali.

Peramban saat ini hampir sama namun mereka berbeda

Tetapi disini saya bukan pejuang yang akan memuaskan untuk hal yang umum saja. Firefox secara nyata merupakan pilihan terbaik untuk pengganti Chrome. Semenjak mesin Quantum di Firefox di uji, Firefox akhirnya meraih pujian dari banyak pengguna yang puas atas jasanya, dan memutuskan hanya untuk memulai aktivitas browsing penuh waktu menggunakan Firefox sebagai peramban utama. Firefox telah tumbuh untuk mengatasi kerakusan pemakaian memori pada beberapa tahun lalu.

Hal utama yang saya pelajari selama proses pencarian peramban yang bagus adalah dari segi desain dan perbedaan performa diantara mereka yang tidak berarti. Jika kamu browsing pasti alurnya akan sama seperti memasukkan alamat situs yang dituju dan sedikit langkah-langkah tertentu sehingga kamu sampai di alamat situs tersebut. Kamu juga dapat mengakses halaman yang telah di bookmark di setiap platform yang kamu gunakan pada setiap jenis perangkat. Tombol pintasan seperti Cmd/Ctrl + Shift + T untuk membuka kembali tab yang tidak sengaja kamu tutup juga ada di Firefox dan hampir sama dengan milik Google Chrome. Kamu juga dapat membisukan/mute sebuah tab pada kedua peramban tersebut baik Firefox maupun Google Chrome.

Mungkin suatu saat saya juga bisa kembali menggunakan Google Chrome, tetapi setelah adanya pemberitahuan bahwa Chrome akan menganut sistem yang lebih jujur di dalam perambannya. Ini hanyalah masalah waktu saja sehingga saya bangga menggunakan dan mendukung penggunaan Firefox sampai saatnya Chrome berkaca pada dirinya sendiri dan mengetahui kesalahan yang telah diperbuatnya. Dan salah satu nasehat yang saya dapatkan adalah jika kita hanya menggunakan Google Chrome untuk segala aktivitas browsing sama saja kita menenggelamkan diri didalam genggaman Google yang selalu mengintai setiap gerak gerik yang kita lakukan dalam hidup kita dan ini akan menjadi mimpi buruk terhadap kehidupan kita.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *